Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, baru-baru ini mengemukakan bahwa China kini telah sejajar atau bahkan melampaui Korea Selatan dalam berbagai bidang teknologi dan investasi. Pernyataan ini mencerminkan perubahan signifikan dalam dinamika kerja sama ekonomi antara kedua negara, yang sebelumnya telah stabil dalam pola tertentu.
Dalam wawancara yang berlangsung menjelang kunjungan resmi Lee ke China, ia menjelaskan berbagai tantangan yang dihadapi oleh Korea Selatan. Lee menarik perhatian bahwa industri otomotif dan kendaraan listrik menjadi sektor yang paling terpengaruh dalam persaingan ini.
Perubahan Struktur Kerja Sama Ekonomi antara China dan Korea Selatan
Lee menekankan bahwa kerja sama ekonomi antara China dan Korea Selatan di masa lalu mengikuti pola vertikal, di mana Korea Selatan menyediakan teknologi dan modal, sementara China berperan dalam penyediaan tenaga kerja. Namun, dengan percepatan pertumbuhan ekonomi dan teknologi China, hubungan tersebut mulai bergeser ke arah yang lebih setara.
Ia menyatakan pentingnya mengadaptasi pendekatan baru dalam kerja sama, agar tidak hanya mengutamakan keuntungan satu pihak. Menurut Lee, kini saatnya kedua negara saling mengakui kemampuan dan potensi masing-masing dalam industri terkini.
Kelanjutan perkembangan teknologi menjadi faktor penting dalam menentukan arah kerja sama kedua negara. Lee mengharapkan kolaborasi yang lebih harmonis dan produktif, di mana kedua belah pihak dapat saling mendukung dalam inovasi dan pengembangan teknologi baru.
Peluang Kerja Sama di Sektor Teknologi Tinggi
Masa depan kerja sama China-Korea Selatan perlu diarahkan pada bidang-bidang canggih, termasuk kecerdasan buatan dan teknologi tinggi. Ini merupakan area yang sangat strategis, mengingat meningkatnya ketergantungan pada inovasi dalam industri otomotif.
Lee percaya bahwa kolaborasi di sektor ini dapat memperkuat posisi kedua negara di pasaran global, terutama dengan meningkatnya permintaan akan solusi teknologi yang efisien. Ia menambahkan bahwa sektor otomotif harus beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan ini, terutama dalam hal pengembangan kendaraan listrik.
Melihat tren global, Lee menekankan pentingnya kedua negara untuk berinvestasi lebih banyak dalam penelitian dan pengembangan. Hal ini akan membantu meningkatkan daya saing produk dan teknologi yang dihasilkan oleh industri masing-masing negara.
Strategi Ke Depan bagi Korea Selatan dan China
Lee Jae Myung mengidentifikasi pentingnya menetapkan strategi yang jelas dalam menghadapi persaingan global. Dengan semakin banyak negara yang beralih ke teknologi hijau dan berkelanjutan, Korea Selatan dan China harus bekerjasama untuk merumuskan kebijakan yang proaktif.
Kerja sama dalam penelitian bersama dan pertukaran ide menjadi elemen kunci dalam strategi ini. Lee mengharapkan adanya inisiatif yang memungkinkan kedua negara berbagi pengetahuan dan teknologi yang akan menghasilkan inovasi lebih lanjut.
Dengan membangun platform kolaborasi yang lebih solid, kedua negara diharapkan dapat berhasil dalam menciptakan produk yang tidak hanya kompetitif di pasar domestik tetapi juga di pasar internasional. Ini menjadi langkah penting untuk menciptakan iklim yang mendukung inovasi.
Menjaga Stabilitas dalam Hubungan Bilateral
Dalam menghadapi tantangan dan pergeseran dinamika ini, Lee juga menekankan pentingnya menjaga stabilitas dalam hubungan bilateral antara China dan Korea Selatan. Hubungan yang baik akan mendukung pencapaian target-target ekonomi yang telah ditetapkan.
Kedua negara perlu menyepakati prinsip-prinsip dasar yang dapat mengatur kerja sama mereka di masa depan. Ini mencakup isu-isu terkait perdagangan, investasi, dan keamanan dalam konteks kerja sama teknologi.
Lee berharap bahwa upaya untuk mengatasi ketegangan perdagangan yang mungkin timbul dapat dilakukan melalui dialog terbuka. Dengan cara ini, kedua negara bisa menghindari konflik yang dapat merugikan kepentingan kedua belah pihak.




