Masih terdapat empat kabupaten/kota di Aceh yang memperpanjang status tanggap darurat akibat bencana yang terjadi baru-baru ini. Keempat wilayah tersebut adalah Aceh Tengah, Gayo Lues, Aceh Tamiang, dan Pidie Jaya, yang terus berupaya memulihkan kondisi pasca bencana tersebut.
Menurut Aam, pernyataan ini disampaikan dalam konferensi pers di Gedung BNPB, Jakarta, yang menjelaskan fokus utama adalah pemulihan akses jalan darat. Selain itu, distribusi logistik tetap diperhatikan, terutama di lokasi-lokasi yang jauh dari posko kabupaten/kota.
Pemerintah Provinsi Aceh, melalui Gubernur Muzakir Manaf, juga telah memutuskan untuk memperpanjang status darurat tersebut selama 14 hari ke depan, hingga 22 Januari 2026. Keputusan ini diambil karena masih ada empat daerah yang memerlukan perhatian khusus dalam tahap tanggap darurat.
Pentingnya Penanggulangan Bencana di Aceh
Penanggulangan bencana di daerah Aceh menjadi isu krusial, mengingat sejarah panjang daerah ini yang sering mengalami bencana alam. Keberadaan status tanggap darurat memainkan peran penting untuk memastikan semua penanganan dan bantuan dapat disalurkan dengan baik.
Aam menegaskan bahwa pencarian korban masih menjadi prioritas dalam status tanggap darurat di Aceh. Tim SAR yang terlibat terus bekerja keras untuk mengidentifikasi dan menemukan korban yang mungkin belum terdeteksi.
Pendeteksian korban yang hilang ini menjadi tantangan tersendiri, lantaran banyak masyarakat yang belum melaporkan hilangnya anggota keluarga mereka. Oleh karena itu, komunikasi yang efektif antara masyarakat dan tim SAR sangat diperlukan untuk meningkatkan efektivitas pencarian.
Peralihan Status di Daerah Lain
Sementara itu, untuk provinsi yang bersebelahan seperti Sumatera Utara dan Sumatera Barat, status mereka telah beralih menjadi transisi darurat. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ancaman bencana sudah mereda, dampaknya masih terasa dan memerlukan penanganan lanjut.
Peralihan status ini bukan berarti berakhirnya tanggung jawab pemerintah dan relawan. Tim SAR di kedua provinsi tetap siaga untuk menerima laporan dari masyarakat jika ada informasi mengenai korban yang mungkin ditemukan.
Dalam konteks ini, ketersediaan informasi yang akurat dan cepat dari masyarakat menjadi krusial. Tim SAR harus mampu merespons dengan cepat setiap laporan yang masuk agar pencarian korban dapat dilakukan dengan efektif.
Fokus Pemulihan dan Kesejahteraan Masyarakat
Fokus utama dalam fase transisi darurat adalah pemulihan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat yang terdampak. Pemerintah berupaya memastikan bantuan dan dukungan diberikan sesuai dengan kebutuhan yang ada di lapangan.
Pemulihan akses jalan juga menjadi prioritas agar distribusi logistik dapat berjalan lancar. Dengan adanya akses yang baik, masyarakat yang terpencil dapat memperoleh bantuan dengan lebih cepat.
Tentunya, sejak bencana terjadi, banyak masyarakat yang kehilangan harta benda dan tempat tinggal mereka. Program rehabilitasi yang dirancang pemerintah diharapkan dapat membantu masyarakat untuk bangkit kembali setelah bencana ini.




