Pemerintah Indonesia tengah berupaya mendorong adopsi kendaraan listrik (EV) melalui beragam insentif fiskal. Namun, program ini ternyata berdampak negatif bagi perekonomian nasional, yang diungkap dalam studi yang dilakukan oleh LPEM FEB UI.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa program Kendaraan Rendah Emisi (LCEV) untuk periode 2021-2025 berkorelasi negatif dengan Produk Domestik Bruto (PDB) dan penyerapan tenaga kerja. Peneliti Senior LPEM FEB UI, Riyanto, menyatakan bahwa program ini mengakibatkan potensi kehilangan PDB yang signifikan.
LPEM FEB UI memperkirakan kerugian PDB berkisar antara Rp 553 miliar hingga Rp 8,8 triliun jika dibandingkan dengan skenario tanpa program tersebut. Selain itu, terdapat penurunan penyerapan tenaga kerja di sektor otomotif yang diperkirakan antara 965 hingga 15.000 orang.
Dampak Negatif Insentif Fiskal untuk Kendaraan Listrik
Insentif fiskal yang diberikan untuk kendaraan listrik justru mendorong ketergantungan pada produk impor utuh (CBU). Terutama untuk mobil listrik berbasis baterai (BEV), nilai tambah dari penggunaan insentif berpotensi mengalir keluar negeri, mengurangi kesempatan produksi dalam negeri.
Data menunjukkan lonjakan signifikan pada impor mobil listrik utuh yang meroket dari 4% pada 2022 menjadi 64% dalam periode Januari hingga Mei 2025. Angka ini menandakan kurangnya daya saing produk lokal di pasar otomotif.
Minimnya kandungan lokal (TKDN) dalam kendaraan listrik semakin memperburuk keadaan, di mana pasar lebih terfokus pada produk asing. Dengan harga yang kompetitif, industri otomotif dalam negeri terancam terpuruk karena ketergantungan yang semakin meningkatkan defisit perdagangan.
Pentingnya Revitalisasi Kebijakan Insentif Otomotif
Di tengah krisis ketenagakerjaan yang dihadapi sektor otomotif domestik, kebijakan insentif perlu segera ditinjau ulang. Riyanto menyarankan agar fokus insentif tidak hanya pada penjualan unit kendaraan, melainkan perlu didasarkan pada lokalitas komponen yang digunakan.
Pemerintah seharusnya memberikan insentif terbesar kepada pabrik-pabrik yang memproduksi kendaraan dengan komponen lokal. Langkah ini akan mendorong pertumbuhan industri komponen otomotif dalam negeri dan meningkatkan daya saing produk lokal.
Dengan pendekatan yang terfokus pada inovasi dan lokalitas, peluang kerja di sektor otomotif bisa diperluas. Hal ini tidak hanya akan memberikan manfaat ekonomi jangka pendek, tetapi juga menciptakan stabilitas jangka panjang bagi pertumbuhan sektor otomotif Indonesia.
Pentingnya Menerapkan Pendekatan Berbasis Lokalitas dalam Pembiayaan
Insentif yang berbasis pada lokalitas komponen akan mendorong investasi di dalam negeri, sehingga menciptakan ekosistem yang lebih berkelanjutan. Dalam jangka panjang, kebijakan ini berpotensi menekan angka pengangguran dan meningkatkan kemandirian industri otomotif nasional.
Saat ini, banyak pabrikan internasional yang hanya memanfaatkan insentif tanpa memberikan kontribusi yang signifikan bagi ekonomi lokal. Oleh karena itu, pendirian pabrik lokal yang memproduksi komponen kendaraan sangat penting untuk menjamin keberlanjutan industri dalam negeri.
Melalui dukungan transportasi hijau yang berorientasi pada produk lokal, diharapkan dapat tercipta lapangan kerja dan kesempatan investasi yang lebih luas bagi masyarakat. Ini adalah langkah yang sangat penting untuk menjamin masa depan industri otomotif yang lebih baik.




