Kepala Eksekutif Toyota Motor, Koji Sato, baru-baru ini berbicara mengenai tantangan signifikan yang dapat memengaruhi daya saing industri otomotif Jepang pada tahun 2026. Menurutnya, ada masalah struktural yang cukup dalam yang bisa mengancam keberlanjutan sektor ini dalam jangka panjang.
Sato, yang juga menjabat sebagai Ketua Asosiasi Produsen Otomotif Jepang (JAMA), menyampaikan setidaknya tujuh risiko utama yang akan dihadapi oleh industri. Ia menegaskan bahwa daya saing global harus menjadi fokus utama dalam merumuskan strategi untuk ke depan.
Menurutnya, industri Jepang seharusnya tidak hanya mengandalkan kekuatan tradisional, tetapi juga mencari cara baru untuk beradaptasi dan bersaing. Sato percaya bahwa Jepang memiliki potensi yang signifikan yang belum sepenuhnya dimanfaatkan.
Risiko Utama yang Dihadapi Industri Otomotif Jepang
Sato menyoroti bahwa ketergantungan yang besar terhadap impor material penting menjadi salah satu risiko yang harus diperhatikan. Akses terhadap logam seperti litium menjadi krusial untuk mendukung produksi kendaraan elektrifikasi.
Di tengah situasi ini, ketidakpastian dalam perdagangan global semakin meningkat, dengan potensi tarif tambahan dari negara-negara tertentu. Hal ini tidak hanya berpotensi meningkatkan biaya produksi, tetapi juga memengaruhi daya saing harga kendaraan dari Jepang.
Selain itu, persaingan dari produsen mobil asal China dan Amerika Serikat juga semakin ketat. Mereka telah melakukan loncatan besar, terutama dalam pengembangan teknologi pengemudian otomatis dan kendaraan berbasis perangkat lunak.
Pentingnya Kecerdasan Buatan dalam Meningkatkan Efisiensi
Sato berpendapat bahwa Jepang memiliki aset berharga dalam bentuk akumulasi data industri dan manajemen rantai pasokan. Namun, pemanfaatan kecerdasan buatan bisa lebih ditingkatkan untuk menciptakan efisiensi yang lebih baik dalam pengambilan keputusan.
Melalui teknologi ini, diharapkan proses produksi dan distribusi dapat dioptimalkan. Dengan demikian, industri otomotif Jepang bisa kembali bersaing di level global dengan cara yang lebih modern dan efisien.
Pemanfaatan kecerdasan buatan juga memiliki potensi untuk meningkatkan kualitas inovasi produk. Ini penting agar Jepang tidak hanya menjadi pengikut dalam tren teknologi, tetapi juga sebagai pelopor dalam industri otomotif dunia.
Menuju Netralitas Karbon dan Ekonomi Sirkular
Dalam peta jalan yang disusun oleh JAMA, Sato mengajak seluruh pemain industri untuk beralih secara bertahap menuju netralitas karbon. Hal ini tak hanya penting untuk keberlanjutan lingkungan, tetapi juga untuk daya saing jangka panjang dalam industri.
Perluasan sistem ekonomi sirkular juga menjadi topik utama dalam pembahasannya. Reformasi menyeluruh terhadap kerangka perpajakan kendaraan di Jepang dianggap perlu untuk menciptakan lingkungan yang lebih mendukung bagi inovasi dan pertumbuhan sektor otomotif.
Dengan pendekatan ini, diharapkan industri otomotif Jepang dapat beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan pasar dan kebutuhan konsumen yang semakin kompleks. Oleh karena itu, komitmen dan kerjasama dari semua pihak akan sangat diperlukan.




