Kampung Zombie di Cililitan, Jakarta Timur, bukan sekadar julukan yang menarik perhatian, melainkan gambaran nyata kehidupan di bawah ancaman banjir. Di kawasan ini, rumah-rumah tampak hidup di atas, namun bagian bawahnya hancur akibat lumpur dan genangan air yang tak kunjung surut.
Kehidupan di kampung ini seperti mencerminkan perjuangan melawan ketidakpastian. Warga yang tinggal di lantai atas rumahnya beraktivitas dengan segala keterbatasan. Mestinya rumah menjadi tempat perlindungan, tetapi di sinilah, lantai dasar justru menjadi saksi bisu dari dampak banjir yang mengubah wajah lingkungan.
Sewaktu reporter setempat mengunjungi lokasi pada Januari 2026, ia mencatat kontras mencolok dari struktur bangunan. Beberapa rumah dibangun tinggi menjulang, bersiap menghadapi kemungkinan banjir berikutnya, sementara bangunan yang lebih lama tampak terbenam, rendah, dan rapuh. Kampung Zombie telah menjadi simbol ketahanan dan adaptasi terhadap bencana.
Kontradiksi Kehidupan Sehari-hari di Kampung Zombie
Yudi, seorang pedagang bakso asal Cikarang, adalah salah satu penghuni setia Kampung Zombie. Ia telah menetap di sana lebih dari setahun bersama anaknya, terpaksa memilih lokasi tersebut karena harga sewa yang terjangkau. Bagi Yudi, biaya sewa berada dalam rentang yang menggiurkan, antara Rp300 ribu hingga Rp600 ribu setiap bulan.
Harga sewa yang rendah itu sering kali memiliki konsekuensi tersendiri. Kamar mandi biasanya terletak di luar rumah, sehingga harus dibagi dengan banyak keluarga. Yudi menjelaskan, “Kalau yang Rp300 ribu sampai Rp400 ribu itu kamar mandinya di luar, jadi kalau mandi harus antre. Yang Rp600 ribu hingga Rp1,2 juta baru kamar mandinya di dalam.”
Pindah ke Cililitan bukan tanpa alasan. Yudi mengaku bahwa sesama pedagang menyarankan untuk mencari peluang lebih besar di Jakarta. Namun, kenyataan yang dihadapi tidak selalu seindah harapan. “Penghasilan enggak jauh beda sama di Cikarang. Bedanya, di sini harus siap banjir,” katanya dengan nada merendah.
Dampak Ekonomi dan Sosial dari Banjar di Kawasan Tersebut
Banjir yang rutin melanda Kampung Zombie tidak hanya berdampak pada kondisi rumah, tetapi juga mempengaruhi ekonomi warga. Dengan akses yang terbatas, pendapatan dari usaha jualan sering kali tidak stabil. Banyak orang yang terpaksa bertahan dengan penghasilan minim di saat tidak ada pelanggan yang datang.
Dalam kondisi seperti ini, keberlangsungan hidup menjadi taruhan. Meskipun harus berjuang setiap harinya, warga Kampung Zombie menunjukkan semangat untuk bertahan. Komunitas saling mendukung, berbagi resiko, dan menjalin relasi sosial yang kuat di tengah kesulitan.
Walau biaya hidup dan risiko banjir menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari, masyarakat di sini tetap menjalani kehidupan dengan harapan. Harapan akan perbaikan infrastruktur dan penanganan banjir yang lebih baik adalah impian bersama. Warga ingin melihat perubahan agar dapat hidup tanpa rasa khawatir akan tenggelamnya rumah mereka.
Infrastruktur dan Solusi untuk Menghadapi Banjir di Kampung Zombie
Pemerintah setempat dihadapkan pada tantangan serius dalam menangani masalah banjir di Kampung Zombie. Salah satu solusinya adalah pembangunan infrastruktur drainase yang efektif agar air dapat mengalir dengan baik. Tanpa adanya sistem yang memadai, risiko banjir akan terus menghantui warga.
Banyak warga berharap bahwa pemkot bisa segera mengimplementasikan program perbaikan. Pengawasan daerah rawan banjir dan peningkatan saluran air adalah langkah awal yang perlu dilakukan. Masyarakat juga dituntut untuk berpartisipasi dalam menjaga kebersihan lingkungan demi mencegah penyumbatan aliran air.
Melalui keterlibatan aktif dari pemerintah dan warga, harapan untuk mengurangi dampak bencana di Kampung Zombie bukanlah hal yang mustahil. Dengan semangat gotong royong, diharapkan komunitas ini bisa bertahan dan meraih kehidupan yang lebih baik di masa depan.




